
Di puncak kawah vulkanik Pulau São Miguel, di tengah kabut tebal Kepulauan Azores, berdiri hotel bintang lima Monte Palace. Di kepulauan itu, hotel ini, layaknya hantu raksasa, melambangkan kemewahan mutlak dan diandalkan untuk masa depan gemilang industri pariwisata Portugal. Namun, nasib Monte Palace selanjutnya menjadi contoh nyata bagaimana investasi yang terlalu ambisius bisa gagal karena hal-hal sepele: perhitungan yang keliru, penilaian berlebihan terhadap pasar pariwisata, dan perkiraan potensi yang tidak tepat.
Mata uang kripto telah lama digunakan untuk berinvestasi dalam proyek konstruksi modern di Lisbon, membeli apartemen pribadi di Dubai, atau mengakuisisi vila mewah di kawasan wisata paling terkenal di Eropa. Selama periode pertumbuhan pesat Bitcoin, Ethereum, dan Tether, muncul generasi baru investor di pasar yang siap menginvestasikan aset digital mereka ke dalam properti – apartemen, hotel, dan infrastruktur pariwisata. Seandainya proyek serupa dibangun pada tahun 2010–2025 dengan keterlibatan pengusaha kripto, kisah ini mungkin akan terlihat sangat berbeda – sebagian besar penggemar kripto akan memandang Monte Palace dengan bagian kepemilikan yang ditokenisasi, pembayaran akomodasi menggunakan kripto, akses NFT ke apartemen, dan sebagainya.
Namun, pasar kripto memiliki karakteristik dan perbedaan tersendiri dibandingkan pasar properti: seandainya pembangunan Monte Palace dibiayai dengan Bitcoin pada tahun 2021, maka pada tahun 2022, setelah pasar anjlok, para investor bisa kehilangan lebih dari 60% nilai aset mereka. Justru karena faktor inilah, dana kripto modern semakin sering menginvestasikan dananya ke dalam aset riil atau “fisik”. Cakupan geografis fenomena ini cukup luas. Biasanya berupa kompleks perumahan, pusat data, hotel, atau properti komersial di Spanyol, Portugal, UEA, dan Singapura.
Meskipun Hotel Monte Palace dibuka di lokasi dengan pemandangan indah Vista do Rei, yang menawarkan panorama Danau Sete Cidades, masalahnya terletak pada fakta bahwa para investor melakukan banyak kesalahan dan perhitungan yang keliru.
Meskipun kompleks tersebut memiliki sekitar 90 kamar mewah, suite presiden, ruang konferensi, bar, dua restoran berkelas, klub malam, toko-toko, dan salon rambut – sebagian besar calon pengunjung berkecukupan tidak merasa perlu pergi ke daerah pegunungan terpencil hanya untuk menikmati kabut. Selain itu, lokasi tersebut memiliki koneksi penerbangan yang minim, infrastruktur pariwisata yang sangat terbatas, jalan yang buruk, serta iklim yang unik.
Hingga saat perusahaan pemilik kehilangan kendali atas situasi keuangannya, Monte Palace hanya beroperasi selama sekitar satu setengah tahun. Proyek raksasa ini telah menelan investasi sebesar 10 juta euro, yang jika dikonversi (per hari ini) setara dengan sekitar 144,73 BTC atau 5.119,65 ETH. Ironisnya, hotel ini menerima penghargaan “Hotel Terbaik di Portugal” hampir bersamaan dengan pengumuman penutupannya.
Pada tahun 2017, perusahaan Tiongkok Level Constellation mengumumkan pembelian kompleks tersebut dan niat untuk menghidupkan kembali hotel tersebut. Para investor menyatakan akan melakukan investasi puluhan juta euro di masa depan, sebagian di antaranya dalam bentuk kripto. Namun, renovasi tersebut tak kunjung dimulai, dan Monte Palace berubah menjadi objek ikonik bagi wisatawan, fotografer, dan penggemar eksplorasi perkotaan, yang mengingatkan akan bahaya berinvestasi tanpa perhitungan pasar yang akurat.
Para penggemar dan investor kripto sering berbicara tentang “pikiran yang jernih, karakter yang kuat, dan naluri finansial”, namun kisah Monte Palace menunjukkan: bahkan investasi yang paling berani pun dapat berubah menjadi reruntuhan jika perencanaan tidak selaras dengan perhitungan ekonomi.